ANGKATAN TERAKHIR
Matahari mulai merayap
naik. Pintu gerbang sekolah sudah ditutup, tapi ada seorang gadis yang baru datang.
Dia nampak cuek dan sudah terbiasa dengan kebiasaanya itu. “hmmm…. Hukuman apa
hari ini ya?.” Reysi mencoba membayangkan apa yang akan terjadi dengannya kali
ini.
“Aduh! Kamu lagi, kamu
lagi!.” Suara Pak satpam membuyarkan lamunan Reysi. Wajah gadis itu sudah
dihafal betul oleh Satpam sekolah itu.
“Maaf Pak, tadi aku
terlambat karena membantu seseorang dijalan.”
“Sebagai hukuman, kamu
harus membersihkan toilet di lantai satu.” Kata-kata itu membuat Reysi kaget. Baru
pertama kali ini dia mendapat hukuman membersihkan toilet. Biasanya dia
mendapat hukuman yang lebih ringan, misalnya menyapu halaman atau mencabut
rumput.
“Kenapa hari ini aku
membersihkan toilet ya?. Hmmm, mungkin karena sudah seminggu ini aku terlambat.
Padahal kali ini aku terlambat gara-gara membantu seseorang dijalan, ironis.” Lamun
Rey, usai membersihkan toilet.
“Aduh, lapar! Tadi aku lupa
sarapan.” Langkah kaki yang tadi mau kekelas, sekarang banting stir pergi
kekantin.
Sampai dikantin, suananya
agak berbeda. Banyak guru berkumpul disana. Kalau dilihat seperti rapat, tapi
juga sambil makan bersama . Karena kepo
Reysi ,sengaja berlama-lama untuk menguping.
“Ada apa ini Pak kepsek? Kok
rapatnya di kantin?.” Tanya Bu Jeine, guru seni, wali kelas Reysi.
“Sesekali
lah kita ganti suasana, agar lebih santai.” Jawab Kepala sekolah, dengan
senyuman ramah
“Semua sudah disinikan? Sebenarnya…
ada hal yang sangat penting untuk dibicarakan. Rahasiakanlah dari murid-murid!.“Senyum
hangat Kepala sekolah hilang diikuti nada bicara yang dingin.
Para guru dan para pegawai
langsung senyap. Pandangan mereka semua langsung tertujuh ke arah Kepsek. Semua
tegang termasuk Reysi, seharusnya dia tidak diperbolehkan tau tentang ini. Tapi,
kepsek tampak masih menahan kata-katanya dengan wajah serius.
“Sekolah ini akan ditutup.”
Perkataan itu lantas membuat semua shock.
Semua pertanyaan muncul mulai dari, kapan?,
bagaimana?, oleh siapa?, dan mengapa? Sekolah itu harus ditutup.
Sesampainya dikelas…
“Hey,Rey!, dapat hukuman
apa kamu hari ini?” Sapa teman sebangku Reysi, Belin.
“Jadi cleaning service di toilet.”
“Pffftt, kasian sekali! Pantasan
kamu bau asem!.” Ejek Belin.
“Belin!, ada yang mau
kuberitahu padamu, tapi jangan beritahukan siapa-siapa ya!”
“Apa?,
tentang cowo?” Tatapan Belin penuh rasa ingin tau.
“Aku tadi menguping saat
rapat guru di kantin, Kepsek bilang sekolah kita akan ditutup.” Nada bicara Rey
berubah agak dingin, sementara Belin masih tidak percaya dengan yang
didengarnya.
“Masa?... Mungkin kamu
salah dengar Rey, atau yang mereka maksud itu libur.” Belin bertanya untuk
memastikan, bingung dan kaget tercampur di wajahnya.
“Tidak! Aku mendengarnya
dengan sangat jelas, Kepsek bilang rahasiakan lah dari murid-murid.”
“….” Belin kehabisan
kata-kata. Dia yakin yang Reysi dengar itu salah, tapi jika benar ini sangat menyedihkan.
Belin langsung bangkit
berdiri. Ditariklah tangan temannya itu ,dan diseret keluar kelas
“Ayo kita Tanya!” Belin menaikan nada
bicaranya.
“Oi! Rapat belum selesai!,
dan bagaimana kalau aku ketahuan menguping?! ” Seru Rey berusaha mensadarkan
Belin.
“Kalo gitu, kita keruang
guru! Kita tanya pada siapa saja yang ada disana!”
“Tidak ada orang diruang
guru, Beliiiinn!!!!”
“Kalo gitu kita tanya Ketua
osis saja!”
“Memangnya kau brani?, Ketua
osisnya galak, loh!”
“Hey, kalian berdua kenapa
diluar kelas? cepat masuk!” Keributan mereka terhenti saat telinga mereka menangkap
suara seseorang yang familiar. Bu Jeini wali Kelas mereka.
“Bu Jeini!, ada yang ingin
kami tanyakan.” Belin langsung maju kearah wali kelas mereka.
“Apakah sekolah kita akan
ditutup?.” Pada akhirnya Reysi yang bertanya.
“ssstt…” Bu Jeini
menempelkan jari telunjuk kanan di bibirnya.
“Benar, sekolah ini akan
ditutup semester depan. Bukan soal biayanya, hanya saja sekolah ini terpencil
membuatnya kurang diakui dan mengakibatkan kekurangan murid.” Bu Jeini
menjelaskan dengan nada sedih, baginya mengajar disekolah ini merupakan suatu
kebahagiaan tersendiri.
Sekolah itu memang tidak semewah
sekolah dikota besar. Sekolah itu diberkati dengan pemandangan khas dataran
tinggi yang memanjahkan mata. Sekolah itu sudah cukup lama didirikan sejak
1994. Guru-gurunya pun baik dalam mengajar. Fasilitasnya juga lengkap, mulai
dari lab kimia,lab bahasa, perlengkapan olahraga, perlengkapan kesehatan,
kantin dengan hidangan yang least, dan lain-lain. Tapi kenapa sekolah ini harus
ditutup ya… memang sih muridnya bertambah sedikit tiap tahunya, tapi bukan
berarti tidak akan ada murid ditahun berikutnya. Sekolah itu diberi nama
sekolah “Suara harapan”.
Pulang sekolah…
Karena hari ini mereka punya cukup uang,
mampirlah mereka kesebuah kafe dipinggir jalan. Makanan yang mereka pesan belum
juga muncul .
“Aku masih kepikiran
dengan sekolahnya” Belin membeberkan isi hatinya,